Tanjung Layar Waterlining

on Monday, 25 March 2013. Posted in Blog IndoSlackline

ntuk kesekian kali, Aku, Bagus dan Goz bepergian bersama. Kali ini Cimaja yang dikenal sebagai surga para peselancar menjadi tujuan kami.

Trip kali ini diawali dengan perjalanan melelahkan karena bus ekonomi yang aku tumpangi terlambat dan membawaku sampai di Jakarta dalam waktu sepuluh jam. Terlebih karena aku diturunkan di tengah jalan yang bukan rute reguler membuatku makin jengkel. Saat itu pukul sebelas malam, Bagus dan Goz menjemputku bersama dua orang lain di dalam mobil. Teman SMA Bagus. Perjalanan dari Jakarta kami lanjutkan menuju Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan waktu enam jam.

Total enam belas jam terakhir aku lalui dengan duduk di atas kendaran roda empat melintasi tiga propinsi. Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Pemberhentian pertama kami adalah di Pondokan milik Goz di Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu bisa dikatakan merupakan versi lama dari Bali. Ya, di kawasan ini berdiri puluhan villa dan resort yang berjejer di tepi pantai. Walaupun secara pemandangan pantainya tampak biasa, namun beberapa tahun lalu tempat ini sangat populer bagi wisata di Indonesia. Lokasi Pelabuhan Ratu tertera pada mainan monopoli yang sering aku mainkan saat masih kecil. Membuatku tak pernah lupa dengan nama tempat itu.

Kami yang sejak awal berencana mencoba surfing membatalkan niat kami karena ombaknya sedang kecil. Sebelumnya, Goz memang memberitahu kami tentang ombak di pantai Pelabuhan Ratu yang sedang tidak memungkinkan untuk surfing. Kami pun memutuskan untuk menelusuri pantai di sepanjang Pelabuhan Ratu hingga sore menjelang. Tidak lupa kami mencari spot untuk bermain slackline.


Hari kedua kami, mobil Goz meluncur cukup jauh membawa kami menuju Pantai Tanjung Layar. Kami melintasi perbatasan Propinsi Jawa Barat dengan Propinsi Banten. Yang mengingatkanku telah melewati empat Propinsi dalam dua hari terakhir. 

Sebelum mencapai Tanjung Layar, kami sempat mampir di Pantai Cimaja. Di tempat ini ombak lebih besar, sayangnya kami tidak membawa surfboard seperti hari sebelumnya karena memang waterlining menjadi tujuan utama kami. Cimaja merupakan laut dengan pantai berupa karang terjal. Ombaknya cukup besar karena alirannya tertahan karang. Dengan kondisi geografis seperti ini, tak heran lahir sederet nama besar surfer Indonesia. Tak hanya itu, motor atau mobil ber-surfboard tampak berlalu lalang di sini. Lokasi ini semakin dikenal masyarakat karena muncul dalam salah satu cuplikan TV commercial yang mengetengahkan spot adventure di Indonesia. 

Dari Cimaja menuju Tanjung Layar ditempuh dalam waktu dua hingga tiga jam melintasi jalan berbukit dengan siluet ressort dan villa-villa mewah di puncaknya. Sedangkan di sebelah selatan kami tampak hamparan laut bergradasi langit biru. 

Dari jalan utama, kami harus berjalan kaki sekitar empat kilometer melewati jalan setapak perkampungan, areal persawahan dan ladang penduduk sebelum akhirnya kami mencapai hamparan pasir putih di Pantai Tanjung Layar. Kami cukup tercengang dengan banyaknya warung dan bangunan di pantai ini. Tak hanya itu, perkampungan yang kami lalui tadi juga menjadi homestay-homestay bagi para pengunjung. Goz mengatakan bahwa perekonomian pariwisata di sini mulai muncul sejak dua tahun terkahir. Aku tak dapat membayangkan seperti apa wajah lokasi ini dua tiga tahun mendatang. 


Di salah satu sudut panai beridiri dua buah batu yang meruncing di bagian atasnya. Inilah yang membuat pantai itu disebut Tanjung Layar. Aku berencana menambatkan webbingku di antara dua batu itu, tetapi sesaat aku mengurunkannya karena ada larangan memanjat di batu tersebut. Akhirnya aku pun hanya merasakan sensasi waterlining di Pantai Tanjung Layar.

 Beberapa orang tertarik mencoba apa yang aku lakukan. Mungkin  karena mereka melihatnya tampak sangat mudah. Dan tentu saja menyenangkan karena saat jatuh, kita tak perlu khawatir untuk cedera. Namun beberapa dari mereka langsung tumbang dalam beberapa langkah pertama. Sebagian dari mereka tampak putus asa dan berhentimencoba, sedangkan yang lainnya tampak penasaran walaupun hingga aku pulang tak satupun dari mereka berhasil menamatkan hingga garis akhir.