Slackline, Semuanya Berawal Dari Langkah Pertama (part 2)

on Thursday, 21 March 2013. Posted in Blog IndoSlackline

Beberapa hari sebelumnya, Bagus mengirimku link vimeo. Sebuah teaser video berjudul "I Believe I Can Fly". Untuk beberapa hari, aku tidak bisa tidur nyenyak karenanya. Aku iri karenanya dan ingin merasakan kebesasan yang sama pada diriku.

Hari itu tanggal Jumat 25 Mei 2012, untuk pertama kalinya kotak berisi elephant line dibuka di hadapanku. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar mengetahui sesuatu yang bernama slackline. Goz mengatakan ia mendapat Rookie Line dan Wing 3.5 itu dari rekannya, seorang Jerman yang datang ke Indonesia membawa 23 unit Elephant slacklines. Yang katanya didapat saat ada outdoor gear expo di negaranya.

Saat rookie lines terpasang, aku teringat teaser video yang menghantuiku beberapa ahri terakhir, dan berujar kepada Bagus tentang I Believe I can Fly. Bagus pun mengambil iPhone-nya dan mencari link di vimeo. Segera ia menunjukkan videonya kepada Goz. "Ya ampun! Itu sangat gila!" katanya.

Ya, gila. Dan aku suka kegilaan macam itu.

"Slackline adalah olahraga keseimbangan dan konsentrasi. Untuk menguasainya, latihan awal adalah berdiri seimbang setidaknya lima belas detik. Lalu mulailah belajar berjalan dengan posisi tangan ke atas, bukan ke samping. Pandangan lurus ke satu titik, bukan ke bawah, dan posisi kaki tidak boleh menyilang dengan arah tali". Sampai hari ini, itulah pelajaran pertama yang aku ingat saat Bagus mencari informasi di google tentang olahraga baru ini.

Slacking Wing 3.5 di Taman Suropati Jakarta

Awal menapakkan kaki di webbing, aku langsung terjatuh dalam 4-5 langkah. Tapi itu justru membuat aku semakin penasaran. Rasanya seperti meniti jembatan bambu yang sering aku lakukan di sawah saat aku kecil, tetapi ini lebih susah.

"slackline berbeda dengan tightwire, yaitu aksi berjalan di atas tali dengan menggunakan galah sebagai alat keseimbangan. Dinamakan tightwire karena saat kita berjalan di atasnya, tali tetap kencang. Sedangkan slackline akan merenggang saat kita berjalan semakin ke tengah. Hal ini dikarenakan material webbing yang terbuat dari nylon yang lebih lentur. Tetapi dengan kelenturan ini, justru memungkinkan bagi para slacker untuk melakukan gerakan akrobatik seperti pada yang mungkin dilakukan di atas trampolin dengan permukaan lebih sempit". Itu adaah infrmasi berikutnya yang aku dapat dari Bagus.

Hari itu, aku hanya berhasil menamatkan satu lap (bolak-balik) pada webbing yang dipasang berjarak 4-5 meteran dengan ketinggian kurang dari satu meter. Sampai acara hari itu berakhir, pertanyaan lain menghantuiku. Bagaimana orang-orang gila itu bisa berjalan berjarak belasan atau mungkin puluhan meter dan ketinggian ratusan meter dari tanah.

***

Double Slackline : Elephant Wing 3.5 dan Rookie Lines : Taman Suropati Jakarta

Aku, Bagus, dan Goz masih berkomunikasi dan membuat beberapa project. Beberapa hari dalam sebulan aku pergi ke Jakarta untuk membahas project kami, hal itu berjalan selama beberapa bulan. Di sela-sela waktuku di Jakarta, kami selalu menyempatkan untuk berlatih slackline. Hanya berlatih beberapa jam dalam sebulan sangat tidak cukup untukku. Tapi tak ada pilihan lain, aku tak punya slackline. Sehingga aku berusaha untuk benar-benar fokus dan memanfaatkan waktu belajarku yang langka. Dalam tiga empat kali berlatih, aku merasa cukup lancar berjalan dan mampu melakukan drop knee dan vertical jump.

Vertical Jump on Elephant Rookie Lines Taman Menteng Jakarta

 *fin*