Slacker Singapura X Slacker Indonesia

on Friday, 17 May 2013. Posted in Blog IndoSlackline

Sebulan sebelumnya, Fadhil telah mengkonfirmasi kedatanganny ke Indonesia. Kami telah mengenal satu sama lain cukup lama melalui Facebook dan Instagram. Saat ini, Facebook memang merupakan media paling efektif untuk bertukar informasi mengenai slackline. 

Fadhil Yunus Alshagoff, pemuda 22 tahun ini baru saja menyelesaikan masa wajib militernya selama dua tahun di negara asalnya, singapore. Ia tertarik mengunjungiku karena foto-foto kampung halamanku, Purwokerto yang kuupload melalui Instagram dan Facebook.

Fadhil, Front Lever.

Sejak 17 Februari 2013, kami memulai delapan hari petualangan kami dari kota halamanku Purwokerto. Di kota kecil ini, kami melakukan hal-hal gila mulai dari wall climbing, berkemah, berenang di sungai, hingga slacklining, dan waterlining. Purwokerto - Banyumas memang terkenal dengan banyaknya sungai dan air terjunnya. Terdapat beberapa spot untuk waterlining yang layak untuk dicoba (saya akan membahas mengenai topik ini lain waktu). Tak hanya itu, beberapa slacker dari Free Slack Crew Solo dan Indoslackline Regional Cilacap juga bergabung dengan kami menjadi semacam gathering yang diisi dengan camping dan waterlining. 

Yusak Yulius, Foot Plant.

 

Bowo, Side Buddah. Menariknya, ini adalah kali pertama Bowo menggunakan Rookie Elephant Lines.

 

Albana, Buddah.
 

 

Basuni, Kongo Mount.

Singkat cerita, Aku dan Fadhil menempuh ratusan kilometer melintasi dua propinsi dan enam kota untuk melakukan hal-hal gila. Salah satu hal yang berkesan dalam petualangan kami adalah hitchhiking (menumpang kendaraan umum) dalam perjalanan menuju Dieng dari Wonosobo karena kami terlambat mendapatkan bus terkahir menuju Dieng. Sebelum memutuskan hitchhiking, kami sempat putus asa karena tampaknya tidak ada kesempatan bagi kami untuk melanjutkan perjalanan ke Dieng mengingat waktu yang sudah cukup malam.

Kami pun menyempatkan untuk mengunjungi Pantai Siung Jogjakarta untuk memanjat tebing dan beachlining di tepi pantai hingga malam dengan menggunakan lampu mobil sebagai penerangan. Tampaknya delapan hari bukan waktu yang cukup bagi kami untuk menyalurkan adrenalin kami. Namun delapan hari merupakan waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain dan berbagi skill kami tentang slackline, terutama trickline. Simak beberapa media lokal yang mengangkat tentang aktifitas slacklining dan waterlining yang kami lakukan saat itu

Radar Banyumas, 20 Februari 2013. Foto oleh King Wiguna
Harian Banyumas, 27 Februari 2013.
   
 
Buletin Prestasi Jawa Tengah, edisi Maret 2013. Foto oleh King Wiguna

 
Fadhil, Free Fall. Foto oleh King Wiguna

 

Fadhil, Chest Bounce. Foto oleh King Wiguna


Hari #1 Fadhil samai di Purwokerto pukul sembilan malam. Kami hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol dan saling mengenal satu sama lain mengingat kami hanya bertemu melalui facebook dan instagram.

Hari #2 Bouldering dan wall climbing di gym milik FPTI Banyumas, GOR Satria Purwokerto. Sorenya kami berenang dan snorkling di Curug Bayan Baturraden. (uraian mengenai Curug Bayan bisa dilihat di blog teman saya di sini). Malamnya, kami bertemu dengan Free Slack Crew Solo dan menghabiskan waktu hingga larut malam.

Hari #3 Slacklining practice di GOR Satria Purwokerto. Sorenya kami berangkat berkemah di lokasi wanawisata Kalipagu Baturraden. Di sini merupakan meeting point kami dengan Bowo, slacker dari Indoslackline Cilacap.

Hari #4 Kami memasang rigging di pepohonan sekitar area kemah sejak pagi hari ditemani monyet Owa Jawa yang terdengar dari bunyinya yang nyaring. Siang harinya, kami menuju salah satu sungai kecil di dekat lokasi perkemahan untuk waterlining. Dan malam harinya, it's karaoke time.

Hari #5 Anggota Free Slack Crew berpisah untuk kembali ke Solo, sedangkan aku dan Fadhil melanjutkan trip kami menuju Dieng. Kami sampai di Wonosobo pukul tujuh malam dan gagal mengejar bus terakhir. Kami hampir putus asa dan akan memutuskan untuk menginap di hotel di skitar Wonosobo. Hingga harapan kami berubah karena beberapa pria dengan mobil pick up-nya mendatangi kami dan menawarkan tumpangan menuju Dieng. Untuk setengah jam mengacungkan ibu jari simbol hitchhiking, itu cukup menggembirakan bagi kami. Terutama bagi Fadhil yang baru pertama kalinya hitchhiking.

Hari #6 Get lost di Dieng. Kami mengunjungi tiga tempat paling favorit di kawasan Dataran Tinggi Dieng, yaitu Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Kompleks Candi Arjuna. Pukul dua siang, kami berpamitan dengan pemilik Losmen Bu Jono - backpacker inn tempat kami menginap. 

Satu-satunya hal yang di luar perkiraan kami adalah mobil Yusak Yulius yang mogok di tengah jalan saat akan menjemput kami dan melanjutkan trip bersama. Rencana kami sore itu untuk mengunjungi Borobudur akhirnya kandas. Yusak memutuskan untuk membawa kembali mobilnya ke Purwokerto. Sedangkan aku dan Fadhil, dan di luar perkiraan pula, mendapat penginapan yang sangat menarik di Wonosobo. Menghabiskan malam untuk bersantai di Duta Homestay yang penuh dengan barang antik cukup mengobati kekecewaan kami. Bahkan memberikan pengalaman lain bagi kami.

Hari #7 Hari terpadat dan merupakan hari terkahir dari trip kami. Melanjutkan perjalanan di pagi hari menuju Borobudur, dengan mobil Yusak Yulius yang telah "pulih", menuju Jogjakarta untuk bertemu Arka, dan melanjutkan petualangan kami di Pantai Siung Jogjakarta. Sampai di Pantai siung pukul tiga sore tak menyurutkan kami untuk tetap memanjat tebing dan beachlining.

Di tempat di mana tidak ada listrik, kami memanfaatkan mobil Yusak untuk penerangan kami berslacklining hingga pukul sembilan malam. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo dan menerima tawaran hospitality yang nyaman dari Sadham, anggota Free Slack Crew.

Hari #8 Kami bangun sangat pagi, pukul empat pagi dan mengejar penerbangan Fadhil yang berangkat pukul setengah delapan pagi. Inilah perpisahan kami, Fadhil kembali ke negara asalnya Singapura, dan kami melanjutkan rutinitas kami.