Manusia Gua. Ya, Kita.

on Thursday, 21 March 2013. Posted in Blog IndoSlackline

Saat ini, hasil pencarian di google dengan keyword "slackline" akan menghasilkan angka 4,190,000 laman. Sedangkan jika kita menggunakan keyword "slackline Indonesia", jumlahnya hanya 94,700.

Hal ini sangat mengejutkan,mengingat Indonesia menempati urutan keempat dari populasi dunia, kurang mengenal mengenai apa itu slackline. Coba tanyakan pada orang-orang di sekitarmu, berapa orang yang mengetahui apa itu slackline. Atau jangan-jangan kamu sendiri tidak mengetahui apa itu slackline.

Jika kita melihat jauh ke belakang tentang sejarah perkembangan slackline, cukup mengejutkan jika slackline baru dikenal di Indonesia dua tiga tahun belakangan. Sedangkan aku sendiri baru mengenal slackline setahun terakhir. Sedangkan di Amerika, slackline telah diperkenalkan sejak tahun 1984!

 

Aku dan Goz menunjukkan teknik berjalan di atas webbing kepada beberapa pedagang minuman di Taman Menteng Jakarta

Aku sangat merasa seperti manusia gua yang baru mengetahui hal-hal baru. Bagitu terkejut saat mendapati hal-hal sederhana telah berevolusi dan berkembang begitu pesat saat aku keluar dari "gua". Aku tercengang melihat aktifitas sederhana - berjalan di atas tali - telah berevolusi menjadi olahraga yang melibatkan berbagai unsur yang kompleks. Bagaimana tampak di vimeo maupun youtube para highliner berjalan meniti tali di antara tebing-tebing dan pencakar langit. Atau para trickliner yang berakrobat dan menjadi bintang kompetisi. Sungguh mencengangkan dan membuat mata tak dapat terpejam.

Lihatlah diri kita, bagaikan suku pedalaman yang tak tersentuh informasi. Sebanyak 238 juta masyarakat Indonesia tampaknya adalah orang gua dan pedalaman yang butuh edukasi tentang olahraga baru ini.

Sejak pertama bermain di Taman Menteng Jakarta, aktifitas sederhana ini menyita perhatian tak hanya satu dua orang. Tak hanya anak-anak, orang dewasa, para eksekutif muda yang tengah berolahraga, hingga penjual minuman pun ingin mencoba tali pipih yang Goz bawa.

Seorang penjual minuman sebelum memulai langkah pertamanya di atas webbing

Mereka tampak antusias, dan kami pun menjelaskan bagaimana trik dasar untuk dapat berjalan di atas webbing slackline. Hal itu terus kami lakukan berulang-ulang setiap kali berlatih di Taman Menteng dan Taman Suropati.

Dalam obrolan kami, terlintas bagaimana kita sangat tertinggal tentang olahraga ini. Dan kami bertiga merasakan hal yang sama. Maka terlintas dalam benak kami. Ya, kita adalah manusia gua. Kita adalah suku pedalaman. Kami bertiga telah mendapat pencerahan. Dan tugas kami adalah memberikan pencerahan kepada anggota suku yang lain. Walaupun kami pun masih belajar, tampak seperti tugas kami untuk menyebarkan slackline seperti virus.

Beberapa mahasiswi tampak penasaran mencoba slackline. Taman Suropati Jakarta.

Maka muncullah istilah Native Slackline. Native Slackline adalah semacam "kode" nama agenda yang kami bertiga gunakan. Misinya adalah datang ke berbagai tempat, kenalkan dan sebarkan slackline kepada sebanyak mungkin masyarakat Indonesia.