Highline Serayu (Part 2)

on Saturday, 23 March 2013. Posted in Blog IndoSlackline

Saat masih sekolah, aku bukan type anak rajin yang selalu mengerjakan tugas. Walaupun sering diingatkan orang tuaku untuk belajar dan mengerjakan tugas, terkadang aku berbohong agar tidak mengerjakan tugas dan lebih senang meluangkan waktu untuk bermain di luar. 

Efekknya akan terasa saat jam pelajarannya tiba. Saat aku menyadari bahwa aku tidak mengerjakan tugas, aku sadar bahwa aku akan mendapat hukuman dari guruku. Tak ada tempat untuk bersembunyi dan melarikan diri. Dan seketika itu, perasaan gugup, takut, dan cemas selalu berhasil memancing keringat dinginku keluar. Perasaan itu selalu sama walaupun terjadi berulang-ulang karena seringnya tidak mengerjakan tugas. 


Tegang, gugup, takut, resiko bahaya, dan ketidakpercayaan pada alat merupakan perasaan yang bercampur aduk saat aku berada di garis start tali webbing selebar dua setengah sentimeter itu. Aku bertanya-tanya apakah para slacker lain juga merasakan hal serupa saat highlining? 

Perasaan tidak percaya diri pun sedikit menggelayuti. Hal ini dikarenakan orang-orang di sekitar Bendung Gerak Serayu yang mengerumuni kami. Tampak dalam mata mereka penasaran dengan apa yang aku lakukan. Dan mungkin menantikan keberhasilanku mencapai garis ujung di seberang pintu air bendungan.

Tapi aku mencoba meyakinkan diriku bahwa pertama adalah awal yang paling menentukan. Go big or go home. Ini merupakan salah satu "detik-detik terlama dalam hidupku". Ya, aku harus bisa. Kukumpulkan keberanianku dan mulai melangkah. Tiga langkah pertama dan aku mulai tidak fokus, tetapi masih bisa seimbang. Hampir setengah lintasan dan getarannya sangat kuat, webbing pun terasa sengat kendur. Dan, yak akhirnya aku hanya berhasil di meter keempat lintasan.

Ternyata efek pendulum yang tercipta dari set-up tersebut sangat dalam. Mungkin sekitar sepuluh atau lima belas sentimeter dari ketinggian normal webbing saat tidak ada beban. Baru-baru ini aku mengetahui bahwa itu merupakan salah satu cabang dalam slackline yang disebut rodeoline (slackline dengan efek pendulum sangat dalam). Dan itu sangat sulit. 

Mungkin rodeoline seperti ini masih cukup sulit bagiku, tapi aku sadar bahwa kesalahan utamanya ada pada mentalku. Aku masih belum cukup fokus dan mengalahkan ketakutanku. Yang terbayang dalam pikiranku memang hanya pusaran air di bawah kakiku. Dan jika aku jatuh dari ketinggian enam meter, maka aku akan berakhir lebih cepat. Rasa percayaku terhadap leash webbing dan seat harness belum cukup memberi dukungan terhadap keberanianku.

Aku mencoba beberapa kali dan hasilnya tetap sama. Yusak bahkan tertinggal beberapa langkah di belakangku. Hingga sehari berikutnya aku masih mencobanya dan tetap tidak berhasil, hingga aku memutuskan untuk berlatih lagi dan berniat menamatkan lintasan itu suatu hari nanti.


*aku baru sadar bahwa saat itu ada wartawan yang datang untuk meliput aksi kami. Aku mengetahuinya saat seorang seorang wartawan mewawancaraiku lewat pesan singkat. Dan esoknya, foto-foto kami pun terpampang di halaman surat kabar lokal.

 

Tontonan warga

 

Feature setengah halaman di salah satu harian lokal

Ucapan terima kasih kepada crew Indoslackline :
Yusak Yulius (Slacker)
Nanda Ardi (Videographer)
Bayu Kreshwandono (Fotografer)
Kukuh Sukmana (Fotografer)
Dhani (Fotografer)