Highline Pantai Siung (Part 1)

on Thursday, 21 March 2013. Posted in Blog IndoSlackline

Ini merupakan pengalaman pertamaku saat melakukan highlining dan mungkin bisa dibilang highline di tebing pertama di Indonesia.

Apa yang akan aku ceritakan kepada kalian mungkin merupakan salah satu pengalaman yang membuatku bangga, tetapi di sisi lain aku menyadari bahwa itu adalah sebuah kecerobohan yang bida berujung pada akhir hidupku. Dan kepada kalian yang akan mencoba highlining, JANGAN sekali-kali melakukan aksi highlining tanpa back up! Dan tentunya, gunakan weebing 1 inchi serta standar keselamatan yang memadai.


Hari itu tanggal Kamis, 14 September 2012. Kami melaju berdua dari Purwokerto. Berbekal seperangkat alat panjat, dan satu set slackline 1 inchi Mountain Equipment legendaris milik Arka Setiawan. Kami menuju pesisir selatan Jogjakarta, tepatnya di venue boulder dan panjat tebing alam yang juga legendaris. Pantai Siung Jogjakarta. Untuk tiga hari ke depan, kami berencana camping, climbing, dan highlining. Kami bertiga. aku, Yusak Yulius, dan "Enchen" Solikhin yang akan kami jemput dalam perjalanan. Keduanya atlet panjat tebing profesional Indonesia. Kecuali aku.

Kami menempuh dua jam perjalanan dari jantung kota Jogjakarta melewati jalan menanjak dan berkelok di Kabupaten Gunungkidul sebelum akhirnya sampai di Pantai Siung. Lokasinya cukup terpencil, jangan berharap dapat menemukan sinyal dan listrik di tempat ini. Tapi jika kalian ingin menghilang sejenak dari peradaban, ini adalah tempat yang teapt. Terutama jika kalian seorang pemanjat, tidak ada hal lain yang perlu kalian risaukan kecuali fokus pada tantangan berupa tebing di depan kalian.

*Bagi kalian yang ingin mengenal lebih jauh tentang Pantai Siung ini, silahkan baca postingan saya sebelumnya, yaitu di sini.

Singkatnya, kami sampai di tempat menginap favorit kami di Kedai Panjat Moro Seneng milik Mbah Wasto. Sedikit cerita tentang Mbah Wasto, dia adalah orang pertama yang datang ke Pantai Siung dan menempati wilayah tersebut. Di salah satu obrolan kami, ia pernah bercerita bahwa sebelum ia dan istrinya memiliki rumah yang ia tempati sekarang, keduanya pernah menjadi "manusia gua". Ya, mereka tinggal di gua-gua di sekitar area Pantai Siung.

Sejak Pantai Siung mulai dibuka sebagai spot panjat tebing, Mbah Wastolah yang kerap menjadi "host" yang menyediakan tempat menginap gratis bagi para pemanjat. Beberapa bagian dari rumahnya bahkan merupakan sumbangan dari pemanjat tebing yang sadar akan jasa Mbah Wasto. Bagi kalian yang menginap di rumah Mbah Wasto, cukup membayar makan dan tarif parkir (jika membutuhkan)

Hari pertama itu kami habiskan untuk melakukan "check spot" dan sedikit cleaning di rute-rute yang akan kami panjat. Sore itu, kami juga mengecek spot di boulder yang rencananya akan kami gunakan untuk highlining. Kami mencari celah-celah di antara karang tajam yang akan kami gunakan sebagai anchor point mengingat kami tidak berencana untuk bombing. Istilah bombing dalam slackline adalah membuat anchor permanen dengan mengebor batu untuk memasang dynabolt.

Setelah yakin dengan semua persiapan itu, kami menikmati sunset dan sepoi angin pantai ditemani kopi dan kudapan dari warung yang dikelola anak perempuan Mbah Wasto. Kamis malam ini terasa sepi tak seperti malam Minggu atau malam-malam lain menjelang libur di mana pantai ini akan dipenuhi para pecinta alam atau orang awam yang ingin bercamping di pantai.

Hari berikutnya, Jumat 15 September 2012. Kami memulai aktifitas seperti telah direncanakan malam sebelumnya. Kami bertiga akan memasang webbing satu inchi di boulder yang letaknya persis di depan rumah Mbah Wasto. Boulder yang berbentuk seperti gigi taring itulah yang menjadi alasan kenapa pantai ini disebut dengan Pantai Siung. Boulder itu memiliki tinggi sekitar empat meter dengan ujung meruncing di sebelah selatan bouler setinggi enam meter. Di seberangnya merupakan batuan karang yang menyatu dengan tebing di Blok A Pantai siung. Lihat topografi di sini untuk melihat detail lokasi.

Kami bertiga memasang sling webbing ke dalam celah-celah di karang sebagai anchor. Dan kami menambahkan dua webbing yang kami tambatkan ke dua celah lain sebagai back up. Kami cukup yakin bahwa anchor tambahan itu akan melindungi kami jika celah batuan pada anchor utama patah. Tetapi aku sangat menyadari apa yang akan terjadi jika webbing terlepas dari ratchet, walaupun kemungkinannya kecil. Tetapi kali ini kami berdua cukup bermain dengan nyawa kami dan berharap hal itu tidak akan terjadi.

Rigging selesai kami pasang dengan membutuhkan waktu sekitar dua jam. dengan lintasan webbing setinggi sekitar enam meter dengan panjang sekitar tiga belas meter. Di sebelah selatan kami adalah laut lepas. Kali ini Yusak mencoba pertama dan masih belum dapat menjinakkan tali. Berikutnya aku mencoba dan tetap belum berhasil hingga kami memutuskan untuk sejenak beralih pada panjat tebing. Saat itu menunjukkan pukul sebelas siang. Kali ini Enchen ikut serta dalam pemanjatan.